Jun 3, 2016

dekat tetapi jauh, asing tetapi pengertian, dan kenyataannya

Kamu ingat, ketika kamu bertemu dengan mereka pertama kali?
Ah, kalau mau diungkapkan dengan sebuah lagu romantis, mungkin lirik itu akan cocok.
Hari pertama kita berjumpa /
akan menjadi kenangan manis pertama dalam / rangkaian kisah kita
Kamu mengakuinya juga, kan?
Membayangkan orang-orang yang akan selalu ada di sekelilingmu.
Memenuhi harimu dengan kebahagiaan, menemanimu, menggandeng tanganmu, menopangmu, mendengarkanmu...

Lirik berikutnya dalam lagu itu akan sangat cocok untuk menggambarkan keadaanmu.
Hari yang kita lalui bersama /
kan menjadi kenangan manis berikutnya dalam / rangkaian kisah kita
Kamu mungkin berada jauh dari mereka, tetapi hatimu dan hati mereka akan selalu dekat.
Sungguh indah.
Sungguh menenangkan.



Ya, aku tidak pernah menyesali saat-saat bersama mereka.
Hingga detik ini, mereka adalah orang-orang yang tidak pernah terhapus dari dalam pikiranku.
Sayangnya, semua keindahan itu adalah sesuatu yang ideal, tidak selalu sama dengan kenyataan.
Mereka selalu ada di sekitarku.
Mereka bersedia melakukan banyak hal untukku.
Tetapi, rasa rindu...
Tetapi, kedekatan hati...
Maaf, itu semua salahku.
Aku memasuki pintu yang salah, yang kini mengurungku.
Aku masih mencoba membuka kuncinya, tetapi melakukannya sendirian bukanlah pekerjaan yang mudah.
Sementara, dengan egoisnya, aku menumpahkan kesalahan pada mereka.
Menuduh mereka tidak selalu ada.
Menuduh mereka menekanku, merepotkanku, membebaniku, memaksaku...
Tidak mau mendengarkanku.
Padahal aku sendiri yang memilih untuk memasuki pintu ini.
Padahal, mungkin, di luar sana, mereka mencariku, berharap aku kembali.
Tetapi, mereka tidak bisa mendengarkan kesedihanku dari balik pintu ini.
Pintu ini begitu jauh, dan mereka tidak mungkin mendekatinya.
Bayangan tentang kehancuran menyelimutiku.
Aku takut.

~><~

Lalu, ada orang-orang dari dalam lorong itu mendekatinya.
Mereka tersenyum, mencoba menenangkannya.
Mereka bilang, lorong itu tidak menakutkan.
Mereka bilang, lorong itu dapat memberikannya perasaan senang.
Dia pun mengikuti orang-orang itu, berjalan semakin jauh dari pintu.
Dia bertemu dengan lebih banyak orang lagi, orang-orang asing berpenampilan aneh, yang semuanya tersenyum kepadanya.
Dia diajak untuk duduk, tanpa paksaan.
Dia diajak bercengkerama, tanpa tuntutan untuk menjawab.
Salah satu dari orang-orang itu menepuk pundaknya, tersenyum dan menawarkan minuman.
Minuman yang terasa manis di lidahnya.
Dia meneguk sekali lagi.
Tiba-tiba, perutnya terasa sedikit panas.
Ketika dia mengerang, seseorang mengelus punggunya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Bahwa dia akan segera terbiasa.
Kemudian, dia diajak beristirahat.
Mereka bilang, besok dia akan merasa lebih baik.
Ketika dia bangun keesokan harinya, dia memang merasa lebih baik.
Perutnya masih sedikit panas ketika meneguk minuman yang mereka tawarkan, tetapi dia tidak mengerang seperti sebelumnya.
Hari itu, dia diajak untuk bersenang-senang tanpa henti.
Seseorang memberitahunya bahwa hanya itu yang mereka lakukan setiap harinya.
Dia diberi tahu bahwa dirinya membutuhkan itu, bahwa pintu itu memang sengaja menarik dirinya untuk membebaskannya.
Dia mengangguk, tersenyum, kembali meneguk.
Orang-orang asing itu...
Dia merasa mereka memahami dirinya.

~><~



Ketika semua makhluk itu telah terlelap, lampu-lampu yang menerangi lorong itu pun padam.
Lorong yang tadinya tampak indah, kini menjadi lorong berlendir.
Alas tidur yang tadinya tampak nyaman, kini menjadi pasir kasar yang merusak kulit.
Makhluk-makhluk itu tidak tahu kalau makanan yang mereka makan adalah kesatuan segala hal menjijikkan yang bahkan tidak bisa mereka bayangkan.
Mereka juga tidak tahu kalau minuman yang mereka minum adalah cairan yang akan segera menghancurkan perut mereka.
Mereka tidak akan pernah tahu bahwa lampu-lampu yang berkilauan itu membutakan mata mereka.
Mereka bahkan tidak menyadari bahwa mereka telah berubah menjadi makhluk buruk rupa.
Makhluk yang baru saja datang itu memang cukup menarik.
Tidak seperti biasanya, butuh waktu agak lama bagi mereka untuk menemukannya di ujung lorong itu, seolah-olah dia tidak tampak pada awalnya.
Tetapi, dia yang terlelap sekarang berubah menjadi makhluk buruk rupa sedikit lebih cepat daripada mereka yang datang sebelumnya.
Tunggu, dia terbangun.
Jangan, dia akan melihat semua kenyatannya tanpa lampu-lampu itu.
Gawat, dia menyadarinya.
Eh, mau ke mana dia?
Dia berlari ke arah lorong.
Kenapa tidak ada makhluk lain yang mendengarnya berlari?!
Hmm, tapi sepertinya itu bukan masalah besar.
Pintu itu tertutup rapat.
Akan butuh waktu lama baginya untuk membukanya.
Jika teman-temannya tidak ada untuk membantunya, bisa dipastikan dia akan kembali.
Hahaha.

No comments:

Post a Comment


nabila1379


Aku tak bisa kembali ke masa itu lagi
Sedikit demi sedikit, aku telah beranjak menjadi dewasa
Sambil terus memeluk impian yang takkan pernah pudar
Aku tak akan pernah menyerah untuk mencapai harapanku
[Jeanie with the Light Brown Hair OST]

   

Subscribe!

Sekarang, aku...

My Unkymood Punkymood (Unkymoods)

Menoleh ke Belakang